Strees Dapat Memicu Tumbuhnya Jerawat
Stres dapat menyebabkan kulit tidak cantik. Sebaliknya, permukaan kulit yang amburadul menjadi pemicu stres. Pengaruh saling silang ini paling parah adalah saat stres emosional. Jenis stres ini amat akrab dengan kesuburan jerawat di wajah.
Penelitian Wake Forest University, North Carolina, Amerika Serikat, tidak hanya memperkuat hubungan itu, namun juga menberikan penjelasan. Riset dilakukan terhadap 94 siswa sekolah menengah yang mempunyai jerawat kelas ringan dan biasa-biasa saja dalam beberapa bulan terakhir.
Kemunculan jerawat umumnya disebabkan oleh kadar sebum yang tinggi, yakni substansi sel minyak dalam lapisan kulit yang fungsinya melindungi pertumbuhan rambut. Karena tingkat sebum bervariasi tergantung cuaca, maka studi itu pun berlangsung pula di tempat yang suhu dan kadar kelembaban tidak banyak berubah, yakni di Singapura.
Dengan menggunakan standar penghitungan stres, periset melihat pada periode emosi tinggi seperti musim ujian, sekitar 23% pelajar itu mengalami pertumbuhan jerawat tidak wajar. Pada waktu yang sama, produksi sebum tidak banyak berubah, baik dalam kondisi stres rendah ataupun tinggi.
Ini menunjukkan bahwa substansi minyak dalam kulit tidak banyak pengaruhnya terhadap kemunculan jerawat.
Penelitian itu pun memperlihatkan kemunculan jerawat terkait erat dengan gelisah dan rasa marah. Stres juga memicu kulit muka lebih merah. Jerawat amat suka muncul dalam situasi kulit seperti itu.
sumber : inilah.com
Penelitian Wake Forest University, North Carolina, Amerika Serikat, tidak hanya memperkuat hubungan itu, namun juga menberikan penjelasan. Riset dilakukan terhadap 94 siswa sekolah menengah yang mempunyai jerawat kelas ringan dan biasa-biasa saja dalam beberapa bulan terakhir.
Kemunculan jerawat umumnya disebabkan oleh kadar sebum yang tinggi, yakni substansi sel minyak dalam lapisan kulit yang fungsinya melindungi pertumbuhan rambut. Karena tingkat sebum bervariasi tergantung cuaca, maka studi itu pun berlangsung pula di tempat yang suhu dan kadar kelembaban tidak banyak berubah, yakni di Singapura.
Dengan menggunakan standar penghitungan stres, periset melihat pada periode emosi tinggi seperti musim ujian, sekitar 23% pelajar itu mengalami pertumbuhan jerawat tidak wajar. Pada waktu yang sama, produksi sebum tidak banyak berubah, baik dalam kondisi stres rendah ataupun tinggi.
Ini menunjukkan bahwa substansi minyak dalam kulit tidak banyak pengaruhnya terhadap kemunculan jerawat.
Penelitian itu pun memperlihatkan kemunculan jerawat terkait erat dengan gelisah dan rasa marah. Stres juga memicu kulit muka lebih merah. Jerawat amat suka muncul dalam situasi kulit seperti itu.
sumber : inilah.com
RSS Feed
Twitter











